3 Pelajaran Sukses dari Zig Ziglar

ZIG ZIGLAR

Seperti kita ketahui Zig Ziglar adalah seorang salesman sukses yang sangat terkenal sedunia. Banyak kisah sukses darinya dijadikan referensi penjualan oleh banyak saleman. Salah satunya akan kita bahas bareng-bareng sekarang ini.

Pelajaran # 1 : Sukses adalah pilihan, bukan bakat, bukan dilahirkan

Seorang salesman tidak dilahirkan, mereka terlahir sama dengan semua orang, tetapi dengan latihan yang tekun, maka seseorang bisa menjadi salesman yang unggul.

Seseorang memang dilahirkan dengan bakat tertentu, namun jika bakat tersebut tidak pernah diasah, tidak pernah dilatih, maka baket tersebut akan hilang dan tenggelam.

Tetapi banyak orang yang mengatakan bahawa, untuk menjadi salesman mereka harus memiliki bakat khusus, bakat menjual, bakat berdagang, setidaknya bakat pandai berbicara.

Tapi kenyataan yang ada, banyak orang yang pandai berbicara, tapi tidak mampu menjual, ini realitanya, dan banyak juga mereka yang terlahir dari keluarga pedagang, tapi karena tidak pernah terlibat didunia perdagangan, mereka tidak memiliki kemampuan untuk menjual.

Sebaliknya banyak orang yang bukan dari keluarga pedagang, tapi bergaul dan belajar berdagang, bisa menjadi pedagang yang sukses.

Artinya bakat memang penting, tetapi belajar dan berlatih secara terus menerus lebih penting, kita memiliki sebuah pilihan, kita yang memilih untuk menjadi salesman yang sukses atau tidak.

Dengn konsisten belajar, melihat dan mendengar, serta mempraktekan pelajaran tersebut, dan berada dilingkungan orang-orang salesman yang sukses, itu akan membuat kita ikut sukses. Jadi sukses itu pilihan, bukan bakat.

Pelajaran # 2 : Salesman Yang Sukses, Karena Cara Berfikirnya Yang Berbeda

Seorang salesman yang sukses, memiliki cara befikir yang berbeda, dia tidak berfikir seperti kebanyakan orang.



Seorang salesman yang sukses, adalah orang-orang yang memiliki cara berfikir dan bertindak yang sangat fanatik dengan profesinya, sangat fanatik dengan produknya, sangat fanatik dengan mereknya, bahkan darah seorang salesman adalah produk itu sendiri.

Salesman olie merek X yang sukses, kalau dadanya dibelah tidak keluar darah yang merah, tetapi keluar olie merek X tersebut.

Salesman yang sukses ini, begitu yakin akan produk dan mereknya, sehingga dia tidak bisa mengerti, kenapa ada orang yang bisa mengucapkan kata “tidak” ketika diberi penawaran produk merek tersebut.

Baginya jika ada prospect yang mengatakan tidak terhadap penawaran produk mereknya tersebut, berarti orang tersebut belum mengerti akan benefit produk tersebut, dan salesman ini akan berusaha dengan keras dan terus menerus berusaha memberi penjelasan hingga prospect mengerti dan membuang kata “tidak” untuk penawaran produk mereknya tersebut, dari kamus memory-nya

Jadi salesman yang sukses pastilah salesman yang bangga akan dirinya, bangga akan profesinya.

Salesman yang sukses memiliki keyakinan yang tinggi akan kesuksesnya, dan mereka memilki mind set yang positif.

Dengan memiliki keyakinan yang tinggi akan kesuksessan dan mind set yang positif, maka hal ini akan membuat pikiran kita menarik semua hal positif yang ada di semesta ini, termasuk yang ada disekitar kita.

Keyakinan yang tinggi, mind set yang positif akan mempengaruhi semua gerak tubuh, kontak mata, cara kita berbicara akan memiliki energi yang merefleksikan keyakinan tersebut, sehingga hal ini akan mempengaruhi keputusan pelanggan.

Dan seperti yang kita ketahui, keyakinan dan citra diri salesman kita secara umum masih rendah, hal ini tentu akan berdapak kurang baik terhadap kinerja salesman itu sendiri.

Padahal jika kita menyadari, hampir semua bisnis itu adalah perdagangan. Hanya kadang dalam skala yang besar. Sehingga pelaku perdagangan ini tidak tampak sebagai penjual.

Pelajaran # 3 : Menutup Penjualan Bahkan Sebelum Presentasi

 Ada satu cerita menarik dari Zig Ziglar, yaitu kisah keberhasilan seorang salesman muda mendapatkan penjualan terbesar kala itu.

Adalah Charlie, seorang salesman muda yang baru saja menyelesaikan masa training-nya ditempat dia bekerja.

Untuk memastikan bahwa salesman tesebut telah siap, sang bos, pimpinan Charlie memanggil Charlie ke kantornya.

Sang bos memberi tantangan kepada Charlie untuk pergi ke kantor yang terletak di seberang, untuk menawarkan order produk ke pimpinan kantor tersebut.

Dimana sebenarnya pimpinan dari kantor tersebut adalah teman dari sang bos, atasan Charlie sendiri, sang bos sudah mengontak pimpinan perusahaan tersebut untuk menolak dan memberi jawaban keberatan atas semua penawaran yang akan Charlie lakukan, dengan tujuan menguji mental salesman barunya tersebut.

Bos ini hanya berkata “Saya ingin kamu pergi ke kantor yang terletak di seberang kantor kita, temui pimpinan di sana, dan coba tawarkan produk kita”

Disampaikan oleh sang Bos, bahwa pimpinan di kantor itu, orang yang paling besar mulut di wilayah ini. Dan dia pasti menolakmu dengan kata-kata kasar. Tetapi sebenarnya dia berhati lembut. Jadi yang harus kamu lakukan adalah hanya perlu bersabar dan mendengarkan dengan tenang mulut besarnya.

Dan jika pimpinan kantor itu telah selesai bicara, sampaikan ke pimpinan kantor itu, “Ya Pak, saya bisa mengerti. Ini adalah penawaran kami yang terbaik, dan kami belum pernah memberikan penawaran seperti ini kepada pelanggan yang lain sebelumnya”

Kemudian lanjutkan dengan “ Ini adalah penawaran istimewa dan saya menyarankan Bapak untuk menikmati keuntungan yang kami tawarkan dengan melakukan order pada hari ini.”

Sekali lagi sang bos mengingatkan bahwa Charlie harus sabar dan tetap berfikir positif, dan yakin bahwa dia bisa mendapatkan order, asal dia bisa bertahan cukup lama.

Charlie sama sekali tidak tahu kalau pimpinan di kantor seberang adalah teman si bos sendiri, dan si bos telah membuat skenario untuk memberikan keberatan-keberatan kepada Charlie.

Akhirnya Charlie pergi ke kantor seberang. Pikiran dan mentalnya sudah siap, dia sudah tahu bahwa pimpinan dikantor seberang akan menolaknya berkali-kali, dan pasti akan berkata-kata kasar kepadanya.

Charlie sudah tahu bahwa akan ada segudang alasan yang akan disampaikan pimpinan tersebut, semua bertujuan untuk membuatnya mundur, tapi Charlie sudah siap dengan semua penolakan yang sudah pasti itu. Charlie punya satu tujuan, memenangkan dan mendapatkan order.

Sesampai dikantor seberang, Charlie menemui pimpinan tersebut dan menawarkan produknya, dan benar, Charlie ditolak keras-keras, bahkan sampai muncul kata-kata yang kasar.

Charlie dengan tenang mendengarkan dan menjawab “ Ya Pak saya mengerti, tapi Ini adalah penawaran kami yang terbaik, dan kami belum pernah memberikan penawaran seperti ini kepada pelanggan yang lain sebelumnya”

“Ini adalah penawaran istimewa dan saya menyarankan Bapak untuk menikmati keuntungan yang kami tawarkan dengan melakukan order pada hari ini.” demikian kata Charlie, disela-sela pimpinan perusahaan tersebut berhenti bicara.

Pimpinan tersebut terus saja menolak dan berkata kasar ke Charlie, tapi Charlie tetap melakukan hal yang sama, tiap kali pimpinan tersebut berhenti bicara.

Akhirnya kurang lebih 30 menit kemudian, Charlie keluar dari kantor seberang dengan membawa order penawaran barang yang telah ditanda tangani pimpinan perusahaan di seberang tersebut. Pimpinan tersebut telah menyetujui order penawarannya, dan dalam jumlah yang besar.

Akhirnya Charlie balik ke kantornya dan menuju ruangan bosnya dan langsung menunjukan order penawaran barang yang telah ditanda tangani pimpinan perusahaan di seberang tersebut.

“Anda benar Bos, pimpinan di kantor seberang adalah orang yang besar mulut dan kasar, tetapi saya tetap bertahan dan tetap menawarkan order barang kita, akhirnya pimpinan perusahaan tersebut setuju” demikian kata Charlie.

Kemudian, “ini adalah order terbesar dalam sejarah perusahaan kita Bos, lihat ini Bos”. Sambil menunjukan nilai order barang tersebut.

Sang bos senang salesman Charlie telah lulus ujian mental, sambil duduk dia memandangi order tersebut, dan dia memang terkesan dengan hasil order tersebut, karena memang itu adalah sebuah order yang terbesar selama ini. Dia tidak menyangka kalau Charlie akan bisa mendapatkan order sebesar itu.

Tapi saat sang bos melihat nama yang tercantum di order tersebut, Dia sangat terkejut, sampai sampai dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Charlie telah masuk ke perusahaan yang salah, dan menemui pimpinan yang salah. Perusahaan yang dimaksud berada diseberang yang berbeda. Charllie masuk ke perusahaan lainnya dengan pimpinan yang memang orangnya besar mulut dan kasar sekali.(pimpinan tersebut bukanlah teman sang bos).

Tidak ada salesman yang bisa bertahan 5 menit dihadapan pimpinan perusahaan tersebut. Tapi Charlie bisa bertahan lebih lama, bahkan mendapatkan order dalam jumlah yang sangat besar.

Demikian cerita dari Zig Ziglar. tentang Charlie, salesman muda yang hebat.

Sekarang mari kita analisa, bagaimana mungkin Charlie yang masih dalam masa training, minim pengalaman bisa berhasil menutup penjualan dengan hasil yang gemilang.

Di dalam pikiran Charlie, ini adalah penjualan yang pasti akan berhasil. Ia hanya perlu bertahan dari semua keberatan, penolakan dan kata-kata kasar dari pimpinan perusahaan tersebut.  Ia telah membayangkan dirinya bertahan mengatasi semua keberatan, penolakan, kata-kata kasar dan ia telah membayangkan dirinya berhasil melakukan penjualan.

Sekarang bagaimana dengan kita, apa yang kita bayangkan saat kita akan melakukan sesuatu, membayangkan kekalahan atau membayangkan kemenangan.

Apakah kita membayangkan bakal ditolak, tidak mampu untuk menjawab semua keberatan dan penolakan dari prospek, merasa malu, kalah berdebat, dikalahkan dan keluar dari kantor prospek dengan tangan kosong.

Atau  kita membayangkan dapat mengatasi semua keberatan dan penolakan dengan kompeten, meyakinkan dan percaya diri.

Dan kita berpikir bahwa prospek akan terkesan oleh keyakinan dan profesionalisme kita, dan kita membayangkan prospek akan menyetujui semua penawaran order kita.

Ketika pikiran kita membayangkan situasi yang negatif, seluruh tubuh, postur, tingkat energi, dan pilihan kata-kata kita, semuanya akan mengarah ke arah negatif

Tapi ketika pikiran kita membayangkan situasi yang positif, seluruh tubuh, postur, tingkat energi, dan pilihan kata-kata kita, semuanya akan mengarah ke arah positif dan merefleksikan optimisme kita.

Energi positif ini akan mengalir diseluruh tubuh dan pikiran kita, dan meyambung ke klien atau prospek, dan akan membuatnya bereaksi secara positif pula.

Saya tahu ini adalah suatu hal yang sulit dilakukan pada awalnya. Tapi ingat, ini semua hanyalah masalah kebiasaan.

Jadi kita harus melatih diri kita, dan memaksa diri kita agar secara terus menerus berfikiran positif, melatih membayangkan semua kejadian positif yang kita inginkan. Satu persatu kejadian itu harus kita bayangkan dan kita rasakan.

Jadi mulai saat ini, kita harus berfikir positif, membayangkan semua aktivitas yang akan kita kerjakan dengan pikiran positif dan dengan hasil yang positif dengan penuh keyakian.

Terima kasih  sudah mampir di blog Distribusi Pemasaran ini.

Salam sukses sehat dan bahagia.

 

>>>Anda dapat menelusuri artikel menarik lainnya melalui SITEMAP LINK ini
About Agus Octa 190 Articles
Agus Octa S, Praktisi dan Konsultan di bidang Distribusi dan Pemasaran.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*