Waspadai 11 Pemicu Brand Switching Ini

brand-switching

BRAND SWITCHING

Perpindahan merek atau brand switching adalah sebuah kondisi di mana seorang pelanggan atau sekelompok pelanggan beralih dari merek produk yang selama ini digunakan ke merek lain dalam kategori produk yang sama.

Di mana seseorang atau sekelompok orang tersebut sebelumnya adalah pelanggan loyal dari merek produk tersebut.

Hal ini akan sangat berbeda dengan fenomena pembeli yang memang tidak pernah loyal terhadap merek apapun, pelanggan yang setiap kali membutuhkan sebuah produk tidak pernah membeli merek yang sama atau tidak pernah melihat mereknya.

Pelanggan yang seperti ini tidak masuk dalam kategori pelanggan yang harus dipertahankan oleh sebuah merek produk, dan juga bukan pelanggan yang akan dikejar oleh sebuah merek produk.

Brand switching harus diantisipasi oleh pemilik merek produk, dengan serangkaian strategi untuk mempertahankan dan meningkatkan loyalitas pelanggan terhadap merek produk tersebut.

Namun kali ini kita akan bahas mengenai beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya perpindahan merek produk atau brand switching, yaitu :

 # 1 : Product Availability

Ketersediaan produk atau product availability yang rendah, merupakan salah satu pemicu utama terjadinya perpindahan merek (brand switching) ini.

Di saat customer sedang mencari sebuah produk merek tertentu di toko / outlets, kemudian tidak menemukan, akan ada beberapa kemungkinan, yaitu mencari ke toko yang lain, berganti ke merek yang lain atau tidak jadi membeli (jika customer tersebut masih memiliki persediaan produk).

Namun jika customer tersebut tidak bisa menemukan merek produk tersebut di beberapa lokasi / outlet, maka kemungkinan untuk berpindah ke merek yang lain cukup besar.

Itulah sebabnya, distribusi yang merata, distribusi dengan availability yang tinggi sangat penting untuk meningkatkan loyalitas sehingga mencegah terjadinya perpindahan customer ke merek yang lain.



Availability bisa tercapai jika, principal mempercayakan produknya ke distributor yang mampu meng-cover semua outlet yang menjadi target market.

Distributor bisa menerapkan strategy spreading, coverage dan penetration dengan baik.

Sales team dari distributor mampu menerapkan disiplin call dengan ketat, sehingga tingkat effective call akan meningkat.

Distributor team mampu membuat secondary sales estimate dan drop size dengan baik, sehingga stock out bisa diminimalisir.

# 2 : In-Store Promotion 

In-store promotion yang dilakukan oleh kompetitor dengan merchandising yang attractive, dapat membuat pelanggan merek produk kita berubah pikiran dan tertarik untuk membeli produk kompetitor tersebut.

Merchandising dengan viscom yang attractive dan persuasif seringkali menjadi salah satu pemicu pelanggan / customer kita berpindah ke lain hati.

Itulah sebabnya, penting bagi merek suatu produk untuk memberikan reminder ke pelanggan loyal kita dengan in-store promotion dan merchandising yang menarik yang juga bisa menampilkan citra merek yang positif.

# 3 : Customer Experience

Seorang customer akan memilih atau menyukai sebuah merek bahkan akan sangat loyal kepada merek suatu produk sepanjang merek produk tersebut memberikan pengalaman positif kepadanya.

Tetapi jika customer tersebut mendapatkan pengalaman yang buruk dengan merek sebuah produk, maka bisa jadi customer tersebut akan berpindah ke merek yang lain.

Customer Experience atau pengalaman pelanggan adalah merupakan salah satu strategi pemasaranyang digunakan untuk merebut hati pelanggan, bagaimana tahapan untuk membangun customer experience yang solid, bisa dibaca di artikel ini

Pengalaman yang buruk tersebut ada bermacam-macam, dimulai dari memang kualitas produk dan jasa yang menurun, atau complain yang tidak segera mendapatkan follow up dan terlambat memberikan solusi yang berempati, atau bisa juga karena kualitas pelayanan yang jelek.

Maka dari itu, sangatlah penting untuk memberikan pengalaman-pengalaman yang baik dan menyenangkan kepada pelanggan kita.

Untuk bisa memberikan pengalaman yang baik dan memuaskan customer, menerapkan strategi kepuasan pelanggan dan menerapkan total quality marketing menjadi penting.

# 4 : Commitment

Komitmen pelanggan terhadap merek suatu produk sangat penting untuk keberhasilan hubungan jangka panjang yang menciptakan pelanggan yang loyal.

Itulah sebabnya, penting bagi pemilik merek produk untuk membuat strategi guna membangun komitmen pelanggan agar tercipta hubungan emosi yang erat antara merek produk dengan pelanggannya.

Salah satunya adalah dengan pembentukan komunitas yang membangun citra positif merek dan penggunanya harus dibangun secara terus menerus, sehingga komitmen pelanggan akan bisa terjaga dengan baik.

# 5 : Brand Reputation

Reputasi adalah kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat atau organisasi yang bisa mewakili atau keputusan mengenai tingkat di mana sebuah merek produk diberi penghargaan atas sebuah prestasi.

Reputasi yang baik dapat meningkatkan loyalitas pelanggan, sebaliknya reputasi yang buruk atau penurunan atas reputasi baik yang dimiliki akan menurunkan kepercayaan pelanggan.

# 6 : Customer Need

Pelanggan mengalami perubahan aktivitas dirinya, yang secara otomatis juga merubah kebutuhan merek dan produk yang digunakan selama ini.

Pelanggan merasa merek produk yang selama ini di gunakan, sudah tidak cocok lagi atau tidak sesuai lagi dengan kondisi dirinya saat ini atau kondisi yang ingin ditampilkannya saat ini.

Sebagai contoh, ketika masih muda seseorang akan memilih mobil yang bersifat off road, tetapi setelah sekian tahun dan bertambah usianya, mungkin orang tersebut merasa lebih cocok  jika mengendarai mobil sedan.

Atau seseorang yang sebelumnya bergaya santai (sepatu, tas dan cara berpakaian) seperti anak muda pada umumnya ketika masih kuliah, harus berubah ketika yang bersangkutan sudah bekerja di suatu perusahaan yang menuntut dirinya untuk berbusana yang formal.

Menggali kebutuhan pelanggan (customer need) dan memenuhi kebutuhan pelanggan tersebut adalah solusi agar tidak terjadi perpindahaan merek.

# 7 : Brand Perception

Seorang pelanggan yang sebelumnya teridentifikasi dengan merek berdasarkan faktor seperti citra merek, budaya merek, nilai perusahaan atau gaya produk mengubah pikiran mereka setelah merek mereka dipersepsi berbeda atau memiliki persepsi yang berbeda dengan persepsi mereka semula.

Contoh, seseorang yang sebelumnya menyukai type dari suatu merek mobil, mendadak jadi merasa kurang nyaman dengan mobil tersebut, setelah mobil tersebut banyak digunakan sebagai taksi.

Atau seseorang yang sebelumnya senang mengenakan busana merek tertentu, berubah rasa bangganya terhadap merek tersebut, setelah merek tersebut banyak dikenakan oleh orang-orang yang menurut persepsinya tidak sama (status sosial berada dibawahnya).

# 8 : Improvement

Perubahan pada fungsi produk atau perubahan layanan jasa atau penambahan fitur baru di mana semua perubahan yang dibuat tersebut tidak sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan, keinginan dan harapan pelanggan.

Jika hal ini terjadi maka, pelanggan akan berpindah ke merek produk yang lain.

Sebuah perubahan seharusnya memberi nilai tambah “yang dibutuhkan pelanggan” atau nilai tambah yang “memberi benefit lebih ke pelanggan”.

# 9 : Market Competition

Kompetitor memberikan fitur yang lebih menarik dan benefit yang lebih baik ke pelanggan kita, dimana fitur dan benefit tersebut bisa dirasakan oleh pelanggan atau memang sesuatu yang mereka butuhkan.

Didalam pasar, pada hakekatnya adalah sebuah persaingan, di mana salah satunya adalah persaingan dalam hal penambahan fitur produk, fitur layanan, garansi lebih, kemudahan dalam proses pembelian dan sebagainya.

Jika kita tidak mampu memberikan kelebihan atau keunggulan yang kompetitif terhadap barang atau jasa kita, maka bersiap-siaplah untuk ditinggalkan oleh pelanggan-pelanggan kita.

# 10 : Pricing

Kompetitor membuat produk atau layanan yang sama persis dengan yang kita berikan selama ini, namun dengan harga yang lebih kompetitif.

Atau kompetitor membuat produk dengan harga yang sama, akan tetapi produk atau layanan tersebut memiliki fitur yang lebih, sehinggan menjadikan harganya dipersepsi lebih murah.

Jika pelanggan kita ditawari oleh kompetitor dengan produk seperti itu, maka bisa jadi akan terjadi perpindahan merek produk (terjadi brand switching).

Kesalahan dalam menetapkan harga, dapat berakibat buruk bagi perusahaan. Faktor-faktor apa saja yang harus dipertimbangkan dalam menetapkan harga sebuah produk ?, baca artikelnya disini.

Dalam menetapkan harga ada beberapa metode, metode apa saja yang paling banyak dipakai dalam penetapan harga ini ?, baca artikelnya disini.

itulah sebabnya sangat penting untuk melakukan analisa dan strategi penetapan harga yang tepat, ada produk yang menerapkan konsep value for money, tapi ada juga produk yang menerapkan konsep premium produk

# 11 : Environment

Perubahan Lingkungan yang terjadi di sekitar titik-titik penjualan bisa mempengaruhi terjadinya perubahan keinginan dan kebutuhan pelanggan yang pada akhirnya akan memicu terjadinya perpindahan merek produk.

Perubahan lingkungan ini bisa terjadi karena seorang pelanggan harus masuk kedalam satu lingkungan yang membuat mind set nya berubah, sehingga pola konsumsinya dan cara pandang terhadap satu merek produk juga berubah.

Seseorang yang sebelumnya terbiasa menggunakan merek X yang nota bene merek produk yang mahal, memutuskan untuk membeli merek-merek yang lebih murah, setelah bersosialisasi dengan orang-orang yang hidup sederhana.

Termasuk dalam environment ini adalah regulasi yang dikeluarkan oleh institusi terkait atau pun dari pemerintah, di mana regulasi ini berkaitan langsung dengan aturan penggunaan kategori produk.

Demikian pembahasan kita mengenai 10 pemicu brand switching yang perlu diwaspadai.

Terima kasih sudah mampir di blog Distribusi Pemasaran ini, semoga bermanfaat.

 

Salam Sukses Sehat dan Bahagia

 

>>>Anda dapat menelusuri artikel menarik lainnya melalui SITEMAP LINK ini

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*