4 Metode Penetapan Harga Yang Paling Banyak Diterapkan

penetapan harga

PRICING STRATEGY

Pada bagian pertama dari artikel tentang Pricing Strategy / Strategi Harga, kita sudah bahas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan harga suatu produk, ada 5 faktor yang kita bahas, yaitu

  1. Product Life Cycle
  2. Penawaran dan Permintaan
  3. Elastisitas Permintaan
  4. Persaingan Pasar
  5. Biaya Produksi dan Pemasaran

Untuk bahasan detail dari 5 faktor di atas bisa dilihat di artikel Penetapan Harga Produk, Apa Saja Yang Harus Dipertimbangkan ?”, dibagian lain dari blog Distribusi Pemasaran ini.

 

METODE PENETAPAN HARGA

Setelah mengetahui beberapa faktor utama yang harus dipertimbangkan dalam penetapan harga produk, maka selanjutnya kita akan membahas metode penetapan harga.

Secara garis besar metode penetapan harga ini tebagi dalam 4 kategori utama., yaitu penetapan berbasis permintaan, biaya,persaingan dan berbasis laba.

 

Metode # 1 : Penetapan Harga Berbasis Permintaan

Metode ini lebih mengedepankan aspek permintaan konsumen, atau situasi pasar, dari aspek yang umum dipakai yaitu biaya.

Beberapa hal yang menjadi alasan penggunaan metode adalah, daya beli, jenis segmen yang dilayani, posisi produk di pasar, manfaat atau benefit produk, serta tingkat potensial pasar.

Beberapa metode penetapan harga jual berbasis permintaan adalah :



Skimming Pricing

Yaitu membuat penetapan harga produk yang cukup tinggi di masa perkenalan atau pertumbuhan awal dari produk, kemudian menurunkan harga tersebut ketika tingkat persaingan mulai naik, atau pasar sudah mulai turun daya tarik-nya.

Atau kadang diterapkan dengan dasar melayani segmen yang lebih menarik dan potensial terlebih dahulu (daya beli tinggi), jika sudah mulai jenuh, maka akan merambah ke pasar dengan daya beli dibawahnya atau yang price sensitif

Penetration Pricing

Menerapkan penetapan harga produk rendah di awal produk dipasarkan, dengan harapan tercapai volume penjualan yang tinggi sehingga perusahaan bisa mencapai skala ekonomis dalam waktu yang singkat, dan penetrasi  ini membentuk barrier bagi pesaing untuk masuk dalam pasar ini.

Prestige Pricing

Menerapkan tingkat harga yang tinggi, relatif tinggi dengan harapan konsumen yang sangat peduli dengan status akan  tertarik dengan produk tersebut.

Konsep dasar dari penetapan harga pretige ini adalah, harga dapat digunakan untuk ukuran kualitas dari barang dan jasa, di mana jika harga diturunkan atau dinaikan sampai dengan tingkat tertentu, maka ketertarikan konsumen akan menurun juga.

Price Lining

Menerapkan metode penetapan harga jual lebih dari satu atau beberapa macam harga (biasanya maksimal 3 macam) untuk jenis barang yang sama, yang didasarkan pada atribut tertentu, misal warna tertentu, dimana warna tersebut memang lagi trending, atau model dengan fitur tertentu dimana fitur tersebut ternyata banyak diminati konsumen.

 

Metode # 2 : Penetapan Harga Berbasis Biaya

Metode ini menetapkan harga produk dengan memperhitungkan semua biaya produksi, operasional dan biaya pemasaran  serta tingkat laba yang diharapkan.

Metode yang berbasis biaya lebih mengutamakan aspek penawaran daripada aspek permintaan.

Standart Mark-up Pricing

Dalam standard mark-up harga, (penetapan harga standard mark-up) maka penetapan harga produk ditentukan dengan jalan menambahkan persentase tertentu dari biaya yang terjadi.

Dalam metode ini, persentase yang ditambahkan cukup bervariasi, dan biasanya dalam satu mata rantai distribusi akan ada penambahan yang semakin kebawah semakin besar.

Misal persentase mark-up distributor 10%, kemudian di saluran bawahnya, agen atau grosir 15%, baru kemudian ditambahkan lagi 25% untuk retailer.

Kemudian tingkat per putaran juga menjadi dasar dalam menentukan besaran persentase nya, semakin tinggi tingkat perputarannya, maka semakin kecil persentasenya.

Cost Plus Mark-Up

Pada strategi cost plus mark-up, maka penetapan harga produk ditentukan dengan cara menambahkan prosentase tertentu terhadap biaya produksi, atau biaya yang muncul sehubungan dengan keberadaan produk tersebut.

Metode ini banyak diterapkan pada produk-produk yang sifatnya project, misal pembangunan gedung, jembatan atau project pengadaan kendaraan, pesawat dan lain-lain.

Dalam metode cost plus, ada 2 macam, yaitu percentage of cost pricing, atau sejumlah prosentase tertentu dari nilai barang. Misal nilai sebuah gedung adalah 2 miliar, fee untuk tenaga pengawas konstruksi sebesar 5%, maka harga gedung berubah menjadi 2,1 miliar (plus 100 jt untuk komisi pengawas).

Yang kedua adalah fixed fee pricing, pada metode ini pembuat, atau produsen akan mendapatkan ganti rugi sejumlah yang dikeluarkan, dan mendapat sejumlah fee tertentu seperti yang sudah disepakati, jadi besar fee tidak dipengaruhi nilai harga barang.

 

Metode # 3 : Penetapan Harga Berbasis Persaingan

Customary Pricing

Pada metode customary pricing, penetapan harga produk ditentukan oleh faktor tradisi, saluran distribusi yang terstandarisasi, atau faktor-faktor lain yang dijadikan pegangan oleh pedagang.

Kadang untuk mempertahankan harganya, pedagang atau produsen akan mengubah ukuran kemasan, atau menyesuaikan isinya.

Contoh barang yang banyak menggunakan metode penetapan harga jual secara customary pricing adalah, beras, gula, tepung.

Market Pricing

Metode penetapan harga jual secara market pricing ini muncul karena anggapan bahwa cukup sulit untuk melakukan identifikasi struktur pembentuk harga yang berlaku  di pasar atau yang ditetapkan pesaing untuk jenis produk atau kategori produk tertentu, sehingga produsen / perusahaan akan melakukan penetapan harga yang subyektif.

Dengan metode ini akan muncul 3 macam penetapan harga produk, yaitu :

  • Above market pricing, di mana harga ditetapkan diatas harga rata-rata yang terjadi di pasar. Metode penetapan harga jual ini akan cocok diterapkan pada produk-produk yang memiliki prestige  atau produk yang dihasilkan oleh perusahaan yang sudah punya nama besar.
  • At market pricing, berarti harga ditetapkan sama atau mendekati harga yang berlaku di pasar. Pada metode ini perusahaan tidak terlalu menghitung biaya pada struktur harga, tetapi perusahaan menganggap harga yang terjadi di pasar adalah harga yang sudah ditetapkan sekian perusahaan yang lebih dulu masuk di industri tersebut.
  • Terakhir adalah below market pricing, di mana harga ditetapkan dibawah harga pasar. Pada metode penetapan harga jual below market pricing ini perusahaan biasanya memang memiliki resources di sana, seperti memiliki saluran distribusi sendiri. Atau perusahaan distribusi yang membuat privat label, sehingga memiliki kemampuan untuk menciptakan produk dengan harga sangat kompetitif.

Loss Leader Pricing

Pada metode penetapan harga Loss leader pricing ini, harga ditetapkan dengan harga dibawah total cost-nya, atau jual rugi. Sebenarnya perusahaan memiliki maksud khusus dengan metode penetapan harga jual yang “tampak rugi” ini.

Biasanya strategi penetapan harga Loss leader pricing ini adalah bagian dari strategi perusahaan untuk mendapatkan share produk yang besar, untuk medapatkan konsumen yang lebih besar dan lebih cepat, jadi strategi ini bersifat sementara, sampai dengan di mana target program / strategi perusahaan telah tercapai.

 

Metode # 4 : Penetapan Harga Berbasis Laba

Adanya peningkatan dalam permintaan atau penurunan dalam biaya total akan memperluas tingkat operasi yang menguntungkan dan meningkatkan laba.

Pada metode penetapan harga berbasis laba, perusahaan berusaha menetapkan harga berdasar keseimbangan antara pendapatan dan biaya.

Target Profit Pricing

  • Pada metode ini perusahaan menetapkan besaran laba tahunan yang diharapkan, kemudian dihitung berapa harga yang harus ditetapkan untuk jumlah unit penjualan tertentu agar laba tersebut dapat tercapai.

Target Return On Sales Pricing

  • Dalam metode ini, perusahaan akan menetapkan tingkat harga tertentu yang dapat menghasilkan laba dalam prosentase tertentu terhadap volume penjualan. Metode ini banyak di gunakan oleh perusahaan perdagangan, terutama jaringan-jaringan supermarket.

Demikian bahasan mengenai bagaimana membuat penetapan harga produk, sebenarnya dalam menetapkan harga memang banyak hal yang harus diperhatikan, hal ini sangat tergantung dengan tujuan dari perusahaan itu sendiri.

Selain 5 faktor diatas, juga ada faktor lain yang ikut menentukan hasil akhir dari penetapan harga itu, yaitu pemberian diskon, allowance dan penyesuaian. 

Seringkali penerapan diskon, allowance dan penyesuaian adalah bagian dari strategi penetapan harga dari perusahaan tersebut.

  • Diskon berkaitan dengan potongan harga yang diberikan sebagai reward atas aktivitas tertentu, seperti kuantitas pembelian, musiman atau event khusus dan metode / syarat pembayaran tertentu seperti cash.
  • Allowance ini mirip diskon, tetapi penerapannya pada kondisi yang khusus, seperti trade-in, promosi khusus, atau cuci gudang.
  • Penyesuaian ini berkaitan dengan kondisi geografis titik penjualan barang dengan tempat produksi barang, dimana nilai penyesuaian biasanya didasarkan pada biaya yang muncul karena transportasi, seperti freight cost.

Terimakasih pada temen-temen yang sudah mampir di blog Distribusi Pemasaran ini. semoga bermanfaat

Salam Sukses Sehat dan Bahagia

>>>Anda dapat menelusuri artikel menarik lainnya melalui SITEMAP LINK ini
About Agus Octa 184 Articles
Agus Octa S, Praktisi dan Konsultan di bidang Distribusi dan Pemasaran.

3 Comments

  1. Tһiѕ design is wicked! Yoս certainly knoԝ how to
    keep a reader entertained. Bеtween yоur wit аnd your videos, I was almost moved t᧐ start my ߋwn blog
    (well, almoѕt…HaHa!) Wonderful job. Ι really
    enjoyed what you had to say, аnd mօre than that,
    how you presented it. Too cool!

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*