Kenali Lebih Dekat, Saluran Distribusi Pemasaran Anda

saluran distribusi
SALURAN DISTRIBUSI

Proses distribusi dimulai dari ketika produk berada di produsen / principal, kemudian bergerak menuju konsumen yang sesuai dengan segmen dan target merek produk tersebut.

Saat produk tersebut “bergerak”, maka produk akan melewati serangkaian jalur atau titik-titik  penjualan (sales point) yang sudah ditentukan yang dikenal dengan saluran distribusi (distribution channel).

Jadi saluran distribusi adalah jalur yang berupa titik penjualan (sales point) yang akan dilewati produk atau jasa menuju konsumen akhir.

Dengan adanya saluran distribusi yang baik dan tepat, maka proses bergeraknya produk menuju konsumen sasaran, akan berjalan dengan baik pula, artinya tujuan dari distribusi, yaitu ketersediaan produk di semua outlet (saluran distribusi) yang terdekat dengan konsumennya, akan tercapai, sehingga konsumen dapat dengan mudah mendapatkan produk tersebut.

Produsen lebih sering menggunakan jasa distributor atau membentuk divisi distribusi dengan alasan perusahaan yang berberak dalam bidang distribusi (distributor / agen) dianggap memiliki keahlian dalam upaya-upaya distribusi, seperti penguasaan area (team yang lebih lengkap) serta lebih mengenal area dan outlet setempat.

Atau dengan membentuk divisi distribusi, karena memang proses distribusi memiliki tingkat kesulitan tersendiri yang harus diselesaikan dengan pendekatan yang khusus dan berbeda dengan pemasaran.

 

Beberapa Pengertian Saluran Distribusi

Saluran distribusi (distribution channels) adalah lembaga distributor / penyalur yang memiliki kegiatan menyalurkan produk dari produsen menuju konsumen, Nitisemito.

Saluran distribusi (distribution channels) adalah saluran yang digunakan oleh para produsen untuk menyalurkan barang produksinya, dari produsen sampai ke konsumen atau kepada pemakai industri, Warren J. Keegan.

Saluran distribusi (distribution channels) adalah lembaga-lembaga dengan kegiatan memasarkan produk, yang berupa barang maupun jasa dari produsen ke konsumen, Assauri.



Sedangkan Kotler, menyatakan bahwa “Every producer seeks to link together the set of marketing intermediaries that best fulfill the firm’s objectives, this set of marketing intermediaries is called the channel of distribution also trade channel or marketing channel”.

The channel of distribution is any sequence of institutions from the producer to the consumer including one or any number of middlemen”, Mc Charthy.

Dan W.J. Stanton mendefinisikan bahwa channel of distribution atau saluran distribusi adalah the route taken by the title to the goods as they move from the producer to the ultimate consumer or industrial users.

Fungsi Saluran Distribusi

Saluran distribusi memiliki fungsi dasar sebagai penyalur produk / barang dari produsen menuju ke konsumen, di mana dalam proses distribusi ini akan ada fungsi tambahan, yaitu :

  • Information Media, proses pengumpulan informasi tentang profil pasar (konsumen, kompetitor, program / strategi) guna proses perencanaan distribusi dan pemasaran.
  • Promotion, proses komunikasi persuasif untuk menciptakan pembelian melalui serangkaian aktivitas dan penawaran.
  • Negotiation, akan terjadi proses negosiasi untuk mencapai kesepakatan, sehingga tujuan masing-masing pihak terpenuhi.
  • Ordering, proses pemesanan barang dari channel terbawah ke tingkat di atasnya, berlanjut hingga ke produsen.
  • Payment, atau transaksi pembayaran atas produk / barang baik melalui lembaga keuangan (bank) maupun secara langsung.
  • Title, terjadi proses perpindahan hak kepemilikan barang dari produsen ke organisasi maupun perorangan melalui saluran distribusi.
  • Physical Possesion, proses mengangkut dan menyimpan barang-barang mulai dari bahan mentah hingga barang jadi dan hingga ke konsumen akhir.
  • Financing, terjadi proses permintaan dan pemanfaatan dana sebagai kompensasi atas aktivitas saluran distribusi.
  • Risk Taking, adanya aktivitas yang distribusi yang bisa menciptakan resiko resiko.

 

Jenis Saluran Distribusi

Dalam proses distribusi, produsen menggunakan beberapa model / jenis saluran distribusi, yaitu :

Produsen ⇒ Konsumen

Produk di deliver langsung dari produsen ke konsumen (principal – consumers) , tanpa menggunakan perantara distribusi, distribusi dilakukan baik oleh team dari pabrik langsung atau melalui pihak ketiga yang merupakan jasa pengiriman barang.

Model ini sering diaplikasikan pada produk-produk dengan penanganan khusus, atau produk yang dibuat secara eksklusif, sehingga pihak produsen tidak menjual produk ini di sembarang outlets / saluran distribusi umum.

Tujuan dari produsen adalah membuat produk yang eksklusif, kemudian tidak mudah ditiru oleh pihak lain / kompetitor dan untuk menjaga keaslian serta memudahkan monitoring produknya.

Produsen ⇒ Pengecer ⇒ Konsumen

Produk didistribusikan dari produsen melalui pengecer / ritel (retailer) baru ke konsumen (principal – retailer – consumers), di mana pengecer ini merupakan pedagang besar dengan fungsi jual / distribusi ritel.

Produsen tidak melayani konsumen secara langsung, karena pembelian dari ritel ini dalam skala besar (partai besar), tapi juga tidak melayani grosir, karena dengan langsung ke pengecer, maka mata rantai distribusi menjadi sangat pendek.

Mata rantai distribusi yang pendek memiliki banyak keuntungan, diantaranya adalah memudahkan monitoring pasar, produsen bisa mengetahui kondisi produknya dengan sangat cepat, dan mampu mengetahui profil konsumen dengan sangat cepat.

Sebenarnya distribusi yang terbaik adalah seperti ini, yaitu go retailer, dan akan lebih baik lagi jika retailer adalah milik sendiri, atau banyak memiliki retailer sendiri.

Praktek distribusi model ini sudah banyak diterapkan, terutama di sektor modern, produk dari principal masuk ke retailer melalui gudang khusus (distribution center) yang melayani beberapa titik penjualan retailer.

Produsen ⇒ Pedagang Besar ⇒ Pengecer ⇒ Konsumen

Model atau jenis saluran distribusi ini yang paling banyak digunakan oleh produsen / principal, yaitu principal – wholesaler – retailer – consumers.

Pada model ini produsen hanya melayani pembelian dalam partai besar, yang biasanya hanya di miliki oleh pedagang besar / wholesaller saja, dan biasanya produsen tidak mau ribet dan kadang memang hal ini atas permintaan dari pedagang besar tersebut.

Baru kemudian pedagang besar akan melakukan distribusi di areanya dengan melayani para pengecer / retailer.

Produsen ⇒ Agen ⇒ Pedagang Besar ⇒ Pengecer  ⇒ Konsumen

Pada model ini, barang dari produsen diambil oleh agen, baru kemudian di salurkan ke pedagang besar dan dilanjutkan penyalurannya ke para pengecer untuk selanjutnya di jual ke konsumen.

Agen disini berbeda dengan pedagang besar yang memiliki item banyak, karena biasanya agen ini hanya memiliki barang atau hanya mendistribusikan sedikit item barang saja, kadang hanya satu dua item saja, namun penjualan dalam kuantitas sangat besar.

Produsen ⇒ Agen ⇒ Pengecer ⇒ Konsumen

Pada model ini, produsen menjual produknya ke agen dan agen langsung melakukan distribusi ke para pengecer, tanpa melalui pedagang besar.

Produsen ⇒ Agen ⇒ Pedagang Besar ⇒ Konsumen

Kadang ada model seperti ini, yaitu principal – agent- wholesaller – consumer, tanpa melalui pengecer, artinya produk dijual secara partai.

Pada model ini, konsumen biasanya bukan perorangan, tetapi institusi yang merupakan pemakai akhir (end user) dari produk tersebut.

Contoh restaurant, hotel, café,  dll, yang membeli bahan makanan (beras, minyak, dll) dalam partai besar.

Kemudian perkantoran (institusi) yang membeli sepatu (safety), kaos, seragam, kertas atau lainnya yang pasti dalam partai besar.

Terus pabrik yang membeli beberapa bahan mentah atau bahan pembantu yang tidak mungkin dalam partai kecil, termasuk saat pabrik tersebut harus membeli keperluan kantor, keperluan karyawan (seragam, safety shoes) yang pasti juga dalam partai besar.

Produsen ⇒ [saluran distribusi] ⇒ Konsumen

Pada model ini, terjadi percampuran dalam saluran distribusi, karena memang kadang ada saluran distribusi yang melakukan aktivitas penjualan dalam partai besar dan eceran, termasuk langsung melayani ke konsumen akhir.

Maksudnya percampuran adalah, produk bisa mengalir dari agen langsung ke konsumen, tanpa melalui grosir dan ritel, atau dari agen langsung ke ritel, baru kemudian ke konsumen.

Perantara Dalam Pemasaran (Middleman)

Perantara adalah orang atau institusi / perusahaan yang berfungsi menghubungkan distribusi barang dari produsen ke konsumen yang biasanya dalam partai besar seperti industri.

Secara umum middleman ini ada dua macam, yaitu

Merchant middleman

Merchant middleman adalah perantara yang memiliki barang sendiri / atau memiliki stock (persediaan) barang (membeli langsung dari produsen) untuk kemudian dijual kembali.

Agent middleman

Agent middleman adalah perantara yang hanya mencarikan pembeli saja, kemudian melakukan negosiasi dan transaksi atas nama produsen.

Praktek midleman ini ada karena adanya gap / kesenjangan antara produsen / principal dengan konsumen selaku pemakai akhir, seperti :

  • Faktor Geography, di mana konsumen pemakai produk yang tersebar di berbagai area, yang menyulitkan pihak principal untuk melakukan distribusi satu per satu.
  • Faktor Perbedaan Waktu, maksudnya adalah ada perbedaan antara waktu barang di produksi dan waktu penggunaan barang tersebut oleh konsumen (time gap), produsen akan memproduksi produk sesuai jadwal produksi, sementara konsumen dalam penggunaannya pasti berdasar kebutuhan.
  • Faktor Kuantitas Produk, dalam proses produksi tentu saja pihak produsen akan melakukan produksi dalam jumlah yang paling ekonomis (economic scale), sedangkan kebutuhan konsumen pada saat yang sama tidaklah sebanyak hasil produksi, sehingga dibutuhkan pihak ketiga sebagai bufer dan penyeimbang.
  • Faktor Keragaman atau Assortment factors, di mana principal selaku produsen biasanya hanya memproduksi kategori produk tertentu, sementara kebutuhan konsumen beragaman produk.
  • Faktor Komunikasi dan Informasi, secara umum konsumen tidak tahu, di mana atau bagaimana cara untuk mendapatkan suatu produk, dan sebaliknya seringkali produsen / principal juga meski mengetahui namun seringkali tidak menguasai area atau kadang memang pihak principal sama sekali tidak tahu keberadaan konsumen tersebut.

Dalam memilih saluran distribusi, sebaiknya principal / produsen menggunakan kriteria-kriteria tertentu seperti 3C, yaitu Competency, Coverage dan Capital.

Competency, menyangkut kemampuan distributor dalam mengelola distribusi, baik secara pemerataan, tingkat visibilitas, service level, eksekusi program dan lain-lain.

Coverage, adalah kemampuan distributor dalam mengelola teriorial / area, termasuk bagaimana distributor tersebut mengatur teknik coverage / kunjungan dan lain sebagainya.

Capital, adalah kemampuan distributor dalam hal keuangan, modal dasar dan modal kerja, hal ini berhubungan langsung dengan kemampuan operasional perusahaan dan infastruktur perusahaan.

 

Beberapa Pertimbangan Penggunaan Pedagang Perantara

Berdasar pertimbangan pasar

  • Ukuran Pelanggan, untuk beberapa jenis pelanggan / pareto / key account, seringkali principal menangani secara langsung, atau setidaknya ada perwakilan khusus dari principal, sementara yang lainnya akan ditanganii oleh distributor.
  • Jenis pasar, jika pasar yang dituju adalah pasar tunggal / institusi skala besar, biasanya tidak menggunakan distributor, produk akan ditangani secara langsung oleh pabrik.
  • Konsentrasi geografis pasar, principal cenderung mendirikan cabang atau perwakilan penjualan di pasar yang memiliki konsumen yang padat (besar), dan sebaliknya untuk konsumen yang secara geografis jauh / terpencar biasanya akan diserahkan ke agen / distributor lokal

Berdasar pertimbangan produk

  • Nilai Unit (Unit Value), semakin rendah nilai unit produk, maka saluran distribusinya akan semakin panjang.
  • Produk dengan spesifikasi teknik khusus, produk yang memiliki sifat teknis khusus, sebaiknya didistribusikan langsung oleh principal, hal ini berhubungan dengan standar oprasional produk tersebut dan kemampuan teknis yang dimiliki tema penjualan.
  • Perishability, produk dengan phisik yang rentan terhadap kerusakan, akan lebih baik menggunakan rantai distribusi yang pendek, sehingga resiko kerusakan bisa diminimalisir.

Berdasar kondisi perusahaan

  • Sumber-sumber financial, principal yang memiliki financial yang kuat, cenderung membentuk divisi atau unit bisnis (SBU) distribusi sendiri, jadi tidak membutuhkan pedagang perantara.
  • Kemampuan manajemen, jika principal tidak memiliki pengalaman dan manajemen yang bagus dibidang distribusi, akan beresiko tinggi jika memaksakan untuk mendistribusikan produknya sendiri, akan lebih bijak jika hal ini diserahkan ke pihak distributor yang telah terbukti mampu melakukan proses distribusi dengan baik.
  • Tingkat pengendalian yang diinginkan yang diinginkan oleh principal, jika principal ingin memiliki otoritas penuh terhadap proses distribusi, akan lebih jika perusahaan menjalan proses distribusi ini sendiri, misal dengan membentuk divisi/team distribusi, atau dalam skala besar membentuk unit bisnis tersendiri.

Jenis Pedagang Perantara (Jenis Saluran Distribusi) secara Fungsi

Ada beberapa jenis perantara dalam saluran distribusi, secara fungsi perantara ini dibedakan menjadi :

Agen (sub Distributor)

Merupakan pedagang penyalur yang mendistribusikan produk dalam jumlah yang besar, jumlah item khusus / spesialisasi dan memiliki area coverage yang cukup luas.

Agen / sub-dist ini biasanya memiliki supporting team yang cukup lengkap untuk proses administrasinya, seperti bagian adm penjualan, penagihan, pergudangan dan dilengkapi dengan bagian keuangan dan akuntansi / pembukuan.

Memiliki struktur team penjualan yang cukup lengkap, yang meng-cover general trade maupun modern trade baik grosir maupun retail.

Beberapa agen / sub-dist dilengkapi dengan sistem pengolahan data / sistem informasi distribusi yang cukup baik dan terintergrasi.

Beberapa agen / sub-dist ini memiliki kantor cabang dan kantor pusat yang mampu mendukung operasional di area yang cukup luas dengan sangat baik.

Pedagang Besar (wholesaller)

Adalah pedagang perantara yang menyalurkan barang dalam skala besar, dan bisa memiliki item yang lebih banyak dari agen / sub-dist.

Wholesaller ini biasanya ada 2 macam, yaitu aktif dan pasif, di mana wholesaller / grosir aktif adalah grosir yang memiliki team penjualan lapangan / sales team / field force / sales teritorry dan lain-lain namanya.

Grosir pasif jika grosir tersebut tidak memiliki team penjualan yang berada dilapangan, tetapi hanya pramuniaga yang stay di gudang / toko grosir.

Grosir biasanya melayani para pengecer yang berada disekitarnya, atau diarea yang dimilikinya.

Ada grosir yang memiliki area pemasaran yang kusus, ada juga yang tidak, artinya mixed area dengan sub-distributor.

Grosir jarang yang melayani konsumen perorangan, hanya pengecer dan enduser dalam skala besar (institusi spt restorant / hotel dll.).

Pengecer (Retailer)

Pengecer atau ritel (retailer) adalah pedagang dalam saluran distribusi yang menjual produk dalam skala kecil / eceran / non partai kepada konsumen atau pengecer yang lebih kecil.

Pengecer ini dalam saluran distribusi dibedakan lagi kedalam pengecer-pengecer yang lebih kecil yang tentu saja disesuaikan dengan bentuk phisik tempat penjualan, lokasi dan jumlah barang yang dijual.

Contoh pengecer di jalan utama, pengecer di jalan pemukiman, pengecer di luar pasar, pengecer didalam pasar, pegecer dengan bangunan permanen dan semi permanen atau rombong, bahkan termasuk pengecer seperti pedagang asongan.

Jenis Pedagang Perantara (Jenis Saluran Distribusi) secara Sektoral

Sektor Pedagang Modern (Modern Trade)

Secara sektor, pedagang perantara dalam saluran distribusi dibedakan menjadi :

Merupakan pedagang perantara yang dikategorikan dalam sektor modern, dimana indikatornya ada pada lokasi, pengaturan tempat penjualan dan system penjualan serta penggunaan peralatan pendukung operasionalnya.

Minimarket

Hampir sama dengan outlet pengecer secara umumnya, hanya saja proses penjualan seringkali dilakukan secara swalayan, dan dibantu oleh pramuniaga dan sales promotion (principal).

Barang ditata sedemikian rupa dalam rak-rak khusus yang berfungsi sebagai display produk dengan pengaturan per kategori dan berdasar kondisi tertentu, misal produk promo ditempatkan tersendiri.

Memiliki sistem pembayaran yang khas, yaitu menggunakan cash register yang terhubung dengan store system (penjualan dan persediaan).

Minimarket terbagi atas independen store dan ada juga yang chain sore, di mana chain store ini yang regional (lokal), nasional bahkan internasional.

Supermarket

Mirip dengan minimarket, hanya saja memiliki area / space yang lebih luas dan keragaman produk dan ketegori yangh jauh lebih lengkap.

Penjualan cenderung retail, produk tertata sedemikian rupa sehingga konsumen dapat melakukan aktivitas berbelanja dengan sangat nyaman.

Memiliki media promo / space yang cukup besar dan sangat atractive, sehingga cocok sebagai media promosi atau berbagai aktivitas pemasaran / event marketing atau in-store promotion.

Memiliki management yang cukup kompleks dan menyeluruh dengan standar operasional yang sudah baku serta memiliki bargaining yang sangat tinggi dalam rantai pemasaran dan distribusi.

Hypermarket

Hypermarket itu sama dengan supermarket, hanya saja seharusnya jauh lebih besar dan lebih kompleks dibanding supermarket.

Keragaman produk yang dijual, menjadikan hypermarket sebagai one stop shopping, artinya konsumen bisa mendapatkan apa saja di hypermarket tersebut.

Penjualan dilakukan secara eceran dan partai atau eceran bertingkat / sliding scale, seperti harga dibedakan untuk pembelian 1 pcs, 3 pcs dan lebih dari 3 pcs.

Dan masih ada harga dalam karton (ctn), maksudnya pembelian dalam karton, dimana produknya tidak terpajang di rak-rakk penjualan.

Area promosi sama dengan supermarket, menerapkan space management dan media promo yang sangat attractive.

Memiliki attractiveness dan magnetude yang sangat besar untuk melakukan aktivitas / event dan berbagai acara eksebisi atau pameran.

Produk bisa didisplay dalam beraneka ragam bentuk dan media seperti floor dsipaly, end gondola, reguler shelving, yg lokasinya juga bisa dipilih sesuai tingkat ke strategisan yang hendak dicapai.

Institution (special outlets / horeca)

Institusi adalah olutlet khusus yang dicover secara khusus, institusi ini ada yang masuk dalam kategori MT dan ada juga masuk dalam kategori GT.

Termasuk dalam special outlets adalah apotik, toko obat dan baby shop, di mana yang dimaksud dengan toko obat ini adalah outlet yang berjualan obat saja, bukan kelontong yang juga jual obat.

Kemudian horeca, yang identik dengan hotel, restoran dan kafe, yang biasanya masuk dalam sektor modern karena memang pengelolaannya yang khusus.

Koperasi dan kantin perkantoran secara umum masuk ke sektor MT, meski ada beberapa perusahaan yang memasukkan type outlets tersebut dalam sektor tradisional.

Koperasi dan apotik, dimasukan dalam special outlet karena faktor administrasi / birokrasi yang berbeda dengan  outlet umum.

Sektor Pedagang Umum / Tradisional (General / Tradisional Trade)

Sektor perdagangan umum / general trade, adalah type outlets lama, pada type outlets ini proses penjualan masih dilakukan secara tradisional, pembeli dilayani penjual secara langsung, demikian pula dengan sistem pembayaran juga masih tradisional, memang sudah ada yang menggunakan mesin cash register, tetapi mesin tersebut bersifat stand alone, tidak terhubung ke sistem yang lebih besar yang terintegrasi.

Grosir Inti atau Pedagang Besar

Pedagang dengan jenis item / kategori atau merek tidak banyak, tetapi volume penjualan sangat besar, kadang sebuah grosir hanya berdagang / menyalurkan satu sampai tiga jenis produk saja. Tetapi dari bermacam-macam type dan merek.

Misal grosir plastik, akan berjualan berbagai macam jenis plastik, berbagai ukuran dan dari berbagai merek.

Grosir ini ada yang memiliki team penjualan dan ada yang tidak, yang memiliki team penjualan lapangan biasanya disebut grosir aktif, jadi ada grosir aktif dan grosir pasif, dibedakan atas proses penjualannya.

Barang tidak di display, tetapi disimpan di gudang dan biasanya manajemen grosir masih tradisional, sudah mengenal pembukuan tetapi tidak menggunakan / memanfaatkan teknologi terkini.

Grosir atau Semi Grosir

Hampir sama dengan grosir, akan tetapi biasanya bersifat pasif, dan melayani barang dalam skala yang lebih kecil dibandingkan grosir inti.

Barang yang dijual memiliki jumlah item yang lebih banyak dari grosir inti, tetapi system penjualannya partai, dan jarang melanai eceran.

Manajemen masih tradisional, sistem pembukuan biasanya manual atau bahkan tidak ada sama sekali, jadi hanya menghitung pembelian, jumlah barang / barang habis dan penjualan, di mana sistem harga hanya dengan sistem tembak / mark up.

Barang rusak biasanya akan tinggi di outlet seperti ini, karena memang manajemen persediaan hampir-hampir tidak ada sama sekali, sehingga FIFO kadang tidak jalan.

Retailer atau Pengecer

Pedagang dengan tipe ini sesuai dengan namanya adalah bersifat jual eceran, lokasi di jalan utama, pemukiman / perumahan dan dipasar.

Retailer sama dengan minimarket, hanya saja berbeda pada cara penataan barang, pengaturan persediaan dan manajemen penjualan juga berbeda.

Pembukuan sering tidak ada sama sekali, jadi sering sekali retailer mengalami kesulitan dalam pembayaran, hal ini sering disebabkan oleh kesalahan pengaturan peruntukan uang, yang seharusnya untuk suplier A, tetapi karena yang datang supplier B, uang ikut untuk pembelian produk B tersebut.

Item barang biasanya dalam jumlah banyak, dalam volume penjualan yang kecil atau relatif lebih sedikit dibanding grosir.

Tidak ada media promo, tetapi principal sering kali meletakan alat /media promo sendiri seperti gantungan, banner, mini rak / mini display dlsb.

Terbagi dalam beberapa type lagi, seperti :

Retailer type 1

Biasanya memiliki tempat berjualan yang permanen, terletak ditepi jalan utama / jalan pemukiman dengan item cukup banyak.

Sistem penjualan tunai, dalam satuan kecil / pack atau eceran, banyak melayani konsumen pribadi secara langsung.

Retailer type 2

Biasanya outlet pengecer ini berada di pasar, dengan spesifikasi hampir sama dengan R-1 yang berada di area pemukiman / non pasar.

Memiliki ukuran yang relatif, karena banyak sekali R2 yang cukup besar, lebih besar dari R1 dalam hal jumlah barang yang dijual dan volume penjualan (omset).

Type R2 ini ada yang didalam pasat dan ada yang diluar pasar, dengan spesifikasi yang hampir sama dengan R1 dan R2.

Retailer type 3

Ini adalah sebutan untuk outlet pengecer semi permanen atau non permanen alias rombong (kaki lima/ K-5).

Outlet ini memiliki andil yang cukup besar dalam proses pengenalan barang, karena memang jumlahnya yang sangat besar, sistem penjualan tunai, dengan jumlah item yang tidak terlalu banyak.

Terbagi dalam lagi dlam rombong tetap, artinya lokasi tetap, dan rombong tidak tetap, artinya proses penjualan seringkali berpindah-pindah (misal rombong yang menggunakan tas khusus atau triseda).

Sektor Digital / Internet / On-line

Pada sektor digital, hal ini karena alasan sistem dan media yang digunakan, yaitu media digital dan cenderung ke internet. Untuk saat ini penjualan melalui media digital ini lebih dikenal dengan nama perdagangan on line system.

Media / atau model yang digunakan juga bermacam-macam, diantaranya adalah :

Melalui Social Media (dan Messenger Tools)

Model penjualan dan pemasaran melalui social media ini cukup ramai dan sering dilakukan, karena memang sangat mudah untuk menerapkannya, kita tinggal promosi, menawarkan produk kita plus gambar produk, sudah bisa menarik pembeli.

Media yang digunakan cukup beragam, tapi yang paling sering adalah Facebook, Twitter, Instagram, Youtube dll. Bisa juga menggunakan media perpesanan (messenger) seperti Whatsapp, YM, Line, BB, SMS / MMS broacasting (LBA) dll.

Proses pembayaran menggunakan bank atau media yang lain / paypal, dan barang akan dikirim sesuai perjanjian yang dibuat, bisa COD atau CBD.

Toko Online

Hampir sama dengan penjualan melalui media social, tetapi biasanya sudah memiliki toko digital atau situs dalam bentuk toko online, dimana pembeli bisa memilih dan memasukkan barang (image) tersebut kedalam keranjang (cart) yang telah disediakan.

Toko On-Line ini sejatinya sama dengan toko ritel atau grosir biasa yang kita kenal di dunia off-line, perbedaan mendasar hanya media yang digunakan pada toko on-line adalah internet.

Sistem pembayaran ada yang menggunakan bank konvensional atau menggunakan alat bantu pembayaran dari pihak ketiga seperti paypal.

Pada sistem on line shop ini, proses lebih otomatis, artinya keterlibatan pemilik toko lebih kecil dibanding dengan mereka yang berjualan melalui media social (FB,WA,BBM dlsb.).

Sistem yang diterapkan ada beberapa macam yaitu :

  • Jual produk sendiri baik phisik maupun digital
  • Affiliate system atau menjualkan produk orang lain (phisik atau digital) dengan cara merekomendasikan produk tersebut dan tanpa merubah harga jual, kita akan mendapakan komisinya.
  • Drop shipper, menjualkan produk orang lain dengan harga lebih tinggi, tanpa stock tanpa proses mengirim barang.
  • Reseller, menjual kembali produk orang lain, harus ada stock dan proses pengiriman barang.
  • dan lain-lain

Ukuran dari online shop ini bervariasi, ada yang kecil artinya baik dari item yang dijual, maupun omset penjualan masih kecil.

Namun juga ada yang sangat besar, memiliki omset puluhan milar perbulan, bahkan beberapa sudah sudah jauh di atasnya, jadi kalau dibayangkan secara offline, ada yang seperti minimarket, dengan omset ratusan juta hinga sekian miliar perbulan, tetapi juga ada yang sangat besar seperti hypermarket dengan omset mencapai miliaran per harinya.

MarketPlace

Market place ini dapat digambarkan dengan mall dengan para tennant-nya yang menyewa lokasi / tempat untuk berjualan.

Di marketplace hal yang sama juga berlaku, para pedagang menyewa lokasi / space di marketplace dengan sekian ketentuan yang berlaku, baik ketentuan fee, cara promosi, promosi wajib, standar harga dan lain-lainnya.

Para tennant di marketplace juga terikat dengan sekian peraturan yang sudah ditentukan oleh manajemen marketpalce tersebut.

Website Bisnis / Blog Bisnis / Content Marketing

Website bisnis / Blog Bisnis adalah situs yang mengkhususkan diri untuk melayani penjualan suatu produk, bisa barang phisik, digital atau layanan tertentu.

Web store ini ada yang dikelola oleh perusahaan besar dan ada yang dikelola perorangan, yang biasanya berada dalam bentuk / berformat blog atau situs-situs layanan khusus.

Seringkali web bisnis ini tidak secara langsung menjual produknya, melainkan meyajikan konten-konten sesuai niche nya atau konten-konten yang bersifat umum untuk situ-situs yang bersifat umum (gado-gado). Produk akan ditawarkan melalui promosi, iklan atau banner yang dimunculkan di sekitar artikel, atau dengan cara yang lain seperti melalui email marketing.

Email Marketing

Model adalah model yang paling lama, tetapi sampai saat ini masih powerfull untuk digunakan mengkonversi target pembaca / konsumen untuk menciptakan transaksi riil.

Biasanya email marketing dikombinasikan dengan model yang lain, seperti penggunaan portal, web bisnis, blog bisnis atau toko online.

Selain bentuk diatas, bentuk online trade masih banyak seperti forum jual-beli, pemasaran pada media mesin pencari (google, yahoo,bing, yandex dll.), hanya saja bentuknya mirip-mirip dengan bentuk-bentuk diatas.

Aktivitas Distribusi Fisik

Adalah aktivitas untuk memindahkan barang dari tempat tertentu ke tempat yang lain dalam kuantitas tertentu, dalam jangka waktu tertentu dan dengan metode tertentu / persyaratan tertentu.

Fungsi-fungsi yang ada dalam distribusi fisik antara lain :

Fungsi Transportation

Bagaimana memilih metode tebaik untuk memindahkan barang dari satu tempat ke tempat yang lain, dengan memperhatikan aspek kecepatan dan keamanan serta kondisi barang.

Misal dengan menggunakan truck atau kereta via darat, kapal laut, pesawat via udara, atau mungkin yang lainnya.

Storage dan warehousing

Metode penyimpanan barang untuk sementara, sampai barang tersebut didistribusikan ke tempat / lokasi berikutnya.

Central warehousing

Barang disimpan terpusat di satu tempat utama, untuk kemudian di kirim menuju lokasi tujuan.

Stock Point warehousing

Barang disimpan di lokasi-lokasi tertentu yang sudah ditentukan, dengan tujuan kemudahannyaa untuk proses berikutnya.

Transit warehousing

Barang disimpan di lokasi tertentu sebagai stock khusus untuk proses pengiriman lebih lanjut, karena stock hanya disimpan sementara (transit).

Dalam prakteknya, biasanya perusahaan akan menerapkan kombinasi dari ketiganya, kecuali untuk distributor dengan area yang kecil.

Baca juga :

Demikian sedikit pembahasan mengenai saluran distribusi, terima kasih sudah mampir di blog Distribusi Pemasaran ini, semoga tulisan ini bermanfaat.

Salam Sukses Sehat dan Bahagia

>>>Anda dapat menelusuri artikel menarik lainnya melalui SITEMAP LINK ini
About Agus Octa 190 Articles
Agus Octa S, Praktisi dan Konsultan di bidang Distribusi dan Pemasaran.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*