Tahapan Memulai Usaha Distribusi Produk Konsumer

Agus Octa

DISTRIBUTION MANAGEMENT – Usaha Distribusi

Bagaimana langkah memulai usaha distribusi produk konsumer secara umum ?, atau apa saja tahapan memulai usaha sebagai distributor produk konsumer ?.

Ada lagi yang bertanya, bagaimana atau apa saja persiapan yang harus dilakukan untuk mendistribusikan produk konsumer ?.

Pertanyaan tersebut yang paling sering diberikan ke saya saat bertemu dengan para pelaku usaha, baik secara langsung maupun via telepon.

Ketika saya tanya lebih jauh, beberapa pelaku usaha ini umumnya sudah memiliki usaha, ada yang memang sudah memiliki produk, tetapi belum berkembang secara distribusi, produk masih berada disekitar situ-situ saja.

Ada yang memang usahanya bidang perdagangan, skala grosir, dan ingin berkembang lebih jauh menjadi distributor.

Ini yang paling banyak yang berhubungan dengan bagaimana tahapan mendistribusikan barang, pengelolaan wilyah beserta sistem operasional dan administrasinya.

Pada artikel ini, saya coba menjawab pertanyaan, “Apa saja tahapan atau langkah memulai usaha (baru) distribusi produk konsumer ?”, secara umum saja, khusus untuk aspek pasar, jadi diluar urusan legalitas atau perijinan dan lain-lainnya.

Baik bagi pemilik produk (principal), maupun perusahaan yang memang bergerak dalam bidang distribusi (distributor) dan perdagangan yang hendak melakukan distribusi.

Sekali lagi, saya coba membuat tahapan-tahapan guna mempersiapkan DISTRIBUSI di suatu wilayah secara garis besar saja.

Agar hasilnya bisa maksimal, harus dilakukan penyesuaian atau tambahan sesuai dengan keinginan Anda dan perusahaan Anda sesuai GOAL,  STRATEGY yang ditempuh dan KONDISI REAL di Lapangan.

Secara umum ada beberapa produk yang harus mengutamakan distribusi, jadi tingkat pemerataan (availability) yang baik dan tingkat space pemajangan (visibility) menjadi salah satu faktor utama penentu tingkat keberhasilan penjualan.

Jadi meski merek atau brand mereka tidak dibangun secara khusus, volume penjualan bisa didapat dengan cukup baik, asalkan distribusi dilakukan dengan solid, merata pada titik-titik penjualan yang potensial, contohnya adalah produk air minum dalam kemasan (AMDK), snack, candy.

Tentu, jika brand juga dibangun, hasilnya akan jauh lebih baik lagi, karena brand yang memiliki ekuitas yang tinggi, akan mampu menggerakkan konsumen untuk membeli produk.

Distribusi yang SOLID, artinya harus memperhitungkan densitas outlet, numeric, weighted dan vertical distribution serta dilakukan pemajangan yang cukup sehingga konsumen bisa melihat produk tersebut.

langkah-memulai-usaha-distribusi-produk-konsumer

Tahap # 1: Tentukan Goal

Hal yang sepele, namus sering dilupakan saat memulai usaha, termasuk usaha distribusi adalah menetapkan GOAL dengan tepat, dalam bentuk rumusan yang SMART – Specific, Measurable, Achievable, Realistic dan Timely.

Minimal yang harus ditetapkan adalah :

  • Omset Penjualan dalam satu periode (bulanan,
    kwartal, semester atau tahunan).
    • Dalam Rupiah (Sales Value).
    • Dalam Unit (Sales Volume).
  • Tentukan, segmen dan target pasar dari produk
    tersebut.
    • Detailkan secara geografi (jika mungkin by :
      usia, gender, family size, family life cycle, pekerjaan, pendidikan,
      pendapatan).
    • Detaikan secara psikografis (misalkan by gaya
      hidup atau life style).
  • Tentukan Strategi Penjualan dan Distribusi yang
    hendak digunakan.
    • Distribusi sendiri (Owned Dist.).
    • Single Distribution.
    • Multi Distribution.

Saya asumsikan perusahaan menggunakan pilihan yang ke-3, Multi Dist. , artinya principal akan menunjuk beberapa distributor-distributor lokal, cara ini cukup bagus, dan budget tidak begitu besar.

  • Untuk Aspek Pemasaran & Promosi Penjualan,
    principal akan support :
    • Team Pemasaran, SPG / TL, TaskForce, Sales Reps,
      atau yang lainnya.
    • Sales Promotion, akan ada berbagai program untuk
      mendukung selling-in dan selling-out sales distributor.
    • Marketing Program, terutama untuk aktivasi merek
      dan distribution channel (brand activation dan channel activation)

Tahap # 2 : Tentukan Area dan Teamnya

Langkah berikutnya dalam tahapan usaha distribusi adalah menetapkan area atau wilayah distribusi dari produk tersebut, jenis saluran distribusi yang akan digunakan, agar produk bisa dijangkau target konsumen dengan mudah, serta menentukan jumlah dan tipe dari team yang akan mengerjakan area tersebut.

  • Tentukan segment pasar dan target pasar yang hendak
    dibidik (berhubungan dengan saluran distribusi (dist. channel)).
  • Tentukan channel distribusi yang hendak dibidik,
    berhubungan dengan segmen pasar yang disasar.
  • Tentukan tingkat Distribusi (numeric) yang
    hendak dicapai,
    • Tentukan, area dan berapa outlet yang hendak
      di-cover (sesuai target market).
    • Jenis dan jumlah outlet per area, dihitung
      berdasar target yang telah ditetapkan atau goal yang hendak dicapai seperti di
      tahap #1.
    • Bisa dikombinasikan dengan Weighted
      Distribution, volume atau value produk di area tersebut (di outlet yang
      potensial).
  • Tentukan formasi team untuk merealisasikan
    tujuan di atas,
    • Jika distribusi oleh principal sendiri, maka
      harus dibentuk team penjualan dan team pemasaran, team bisa digabung (seperti
      sales reps, yang bertugas melakukan penjualan dan pemasaran).
    • Jika menggunakan distributor luar, berarti
      principal hanya membentuk team pemasaran saja, dengan tugas utama, mengenalkan
      produk dan mengaktivasi merek dan saluran distribusi, agar produk bisa diterima
      di outlet (trader treatment) dan dikenal konsumen (consummer treatment). Saya
      asumsikan pilihan ini yang diambil.
    • Jumlah team dihitung berdasar beban distribusi
      dari setiap team, secara umum perhitungannya ada adalah :
      • Tetapkan pola kunjungan dan siklus kunjungan
        (call cycle)
      • Call cycle ¼, 1 x per cycle (bulan)
      • Call cycle 2/4, 2 x per cycle (bulan)
      • Call cycle 4/4, 4 x per cycle (bulan), biasaya
        untuk MT
      • Secara umum sales call per hari = 20 outlet
        (bisa lebih bisa kurang, tergantung medan atau jarak tempuh dan kerapatan /
        densitas dan jenis outlets)
      • Jadi, CC ¼, jumlah outlet per salesman = ((5 x
        20 + 10) x 4) =  440 outlets
      • CC 2/4, jumlah outlet per salesman = ((5 x 20 +
        10) x 2) = 220 outlets
      • CC 4/4, jumlah outlet per salesman = ((5 x 20 +
        10) x 1) = 110 outlets
    • Dari perhitungan di atas sudah jelas, berapa
      kemampuan cover tiap salesman.
      • Misal di Malang dan sekitarnya ada 2000 outlets,
        maka kebutuhan salesman = 2000 / 440 = 5 salesforce (dengan CC ¼)
      • Atau saya balik, 5 salesman akan menghasilkan =
        5 x 440 = 2200 outlets, jika tiap outlet dikunjungi 1 bulan sekali (dengan CC
        1/4).

Tahap # 3 : Lakukan Mapping Area

Setelah wilayah distribusi sudah ditetapkan, langkah berikutnya dalam usaha distribusi adalah memetakan (mapping) area, agar bisa dilihat dengan jelas tingkat potensi dari wilayah tersebut, serta bagaimana cara melakukan proses distribusi yang paling efektif dan efisien.

  • Hal-hal yang perlu dipertimbangkan :
    • Strategi penjualan dan distribusi yang dipilih.
    • Jenis dan jumlah sales team.
    • Pembagian area dan prioritas area (area mana yg
      diprioritaskan).
    • Pembagian jenis outlet dan prioritas jenis
      outlet (jenis outlet apa saja dan outlet mana saja yg diprioritaskan).
    • Kelayakan dan potensi pasar di area tersebut.
    • Coverage system yg digunakan :
      • By saluran / channel (pembagian didasarkan dist
        channel).
      • By geografis (pembagian didasarkan area
        geografis), biasanya model ini yang sering digunakan.
    • Jumlah minimal outlet dan potensinya per sales
      team, artinya dihitung juga berapa potensi penjualan di area tersebut, sehingga
      didapatkan rasio biaya terhadap penjualan yag wajar.
    • Kondisi geografis, pertimbangkan waktu, tingkat
      kemacetan, jarak, dan lain-lain.
    • Kondisi pasar, jam buka, jam order, jam tagih, dan
      lain-lain.
  • Lakukan proses pemetaan :
    • Bagi wilayah (batas area, estimasi jumlah
      konsumen, jumlah outlet semesta).
    • Hitung potensi area (potensi wilayah, potensi
      outlet, potensi penjualan, dan lain-lain.)
    • Lakukan pencacahan ( jalan, letak outlet, waktu
      tempuh).
  • Lakukan uji area dan evaluasi.
  • Lakukan pembenahan (route engineering), ingat…,
    mapping harus bersifat dinamis.

Tahap # 4 : Susun Call Plan (Jadwal Kunjungan Salesman)

Satu paket dengan proses mapping dalam usaha distribusi adalah langkah menetapkan jadwal kunjungan atau rute perjalanan salesman, agar pasar tahu kapan mereka akan dikunjungi salesman (produk tersebut).

  • Ada banyak pola / pattern dari call plan, yang
    paling sering digunakan adalah pola cloverleaf (seperti bentuk daun, oval /
    melingkar per tangkai, satu tangkai untuk satu hari atau satu siklus
    penjualan).
  • Tentukan prioritas outlet, prinsipnya kemudahan
    (selling-in) dan potensi outlet (selling-out).
  • Tentukan jumlah kunjungan per hari, umumnya 20
    outlet per hari, sabtu 10-15 per hari.
  • Jenis dan lokasi outlet juga menentukan jumlah
    kunjungan, utk MT kurang dari 20, untuk GT R1, R2 minimal 20 outlet per hari,
    R3 dan R22,  30 sd 40 outlet perhari.
  • Tentukan siklus kunjungan 1 / 4, 2 / 4, 4 / 4
    atau 8 / 4.

Tahap # 5 : Breakdown Target Penjualan

Saat salesman berada dilapangan (di pasar atau di outlet), salesman harus tahu, produk apa yang harus ditawarkan, berapa jumlahnya, sistem pembayarannya bagaimana, dan seterusnya.

Itulah sebabnya, salesman harus memiliki target untuk setiap outlet tersebut, jadi target dari perusahaan, atau area harus di breakdown hingga per salesman team dan per outlet.

  • Lakukan breakdown sales target (target penjualan
    yg di tahap #1)
    • Breakdown per area.
    • Breakdown per sub-area.
    • Breakdown per sales team atau per sales point /
      activity point.
    • Breakdown per outlet atau per hari dengan
      memperhitungan potensi dan jenis outlet.
  • Jika memungkinkan mulailah menyusun sasaran
    penjualan harian, bisa didasarkan pada potensi atau hasil penjualan dan market
    visit.
  • Breakdown target ini dalam unit dan dalam
    rupiah.
  • Target harus dibarengi dengan amunisi yang
    diberikan ke sales team (sales promotion), yang juga telah di breakdown.

Tahap # 6 : Susun Standard Biaya Operasional (Motor Running Cost – MRC)

Team dalam melakukan operasional memerlukan biaya, agar biaya bisa efektif, tepat sasaran dan efisien maka harus disusun standar dari biaya operasional tersebut, untuk semua team atau semua level yang ada.

  • Berdasarkan mapping area, susun estimasi MRC
    tiap sales team.
  • Apa saja yg masuk sebagai biaya operasional
    (uang makan, penginapan, bbm, kendaraan / sewa, pulsa, ganti oli, dll.)
    tergantung perusahaan.
  • Yang menjadi pertimbangan MRC :
    • Dalam Kota (DK) atau Luar Kota (LK), tetapkan
      standar DK dan LK nya spt apa.
    • Jarak tempuh (BBM, waktu, jumlah outlet).
    • Tetapkan standar uang makan (meal expense) DK
      dan LK (menginap)
    • Tetapkan standar uang penginapan per sales team
      (plus sopir).
    • Tetapkan biaya lain spt parkir, retribusi, tol
      dll.
  • Atur system yang digunakan, biasanya lumpsum
    dengan menyertakan bukti untuk proses klaim biaya (claim expenses) operasional.
  • Hitung rasio biaya operasional terhadap
    penjualan sebagai bahan analisa dan pertimbangan.

Tahap # 7 : Susun Sistem Remunerasinya

Salah satu hal penting saat memulai usaha distribusi adalah menyusun Sistem Remunerasi atau Sistem Imbal Jasa (kompensasi) yang akan diterapkan dalam perusahaan tersebut, termasuk didalamnya Sistem atau Skema Insentif, Bonus atau Komisinya.

  • Susun job class untuk setiap posisi yang
    dibutuhkan di perusahaan tersebut, berikut syarat-syarat untuk setiap job class
    tersebut.
  • Susun Standar Gaji yang akan diterapkan,
    didasarkan pada job class yang telah disusun.
    • Perhatikan UMK dan UMR setempat, jika belum bisa
      memenuhi persyaratan, lakukan komunikasi dengan baik ke karyawan.
    • Perhatikan prosentase pembagian antara gaji
      pokok dan tunjangan, lihat aturan dari disnaker, komunikasikan dan tuangkan
      juga dalam PKWT dan KKB.
    • Atur komponen gaji tersebut apa saja.
  • Tetapkan komisi atau insentif yang digunakan.
    • Susun skema insentif tetap.
    • Susun skema insentif khusus atau pengembangan.
    • Skema bisa dijadikan satu atau terpisah.
    • Perhatikan antara komponen insentif dengan
      sasaran yang hendak dicapai.
    • Tentukan periode dari insentif tersebut, seperti
      bulanan, triwulan (kwartal), semester dan atau by project.
    • Susun skema insentif dengan bentuk sesederhana
      mungkin, lakukan transparansi dengan melakukan komunikasi dan sosialiasi ke
      team terkait.
    • Pastikan team terkait memahami apa yang menjadi
      target, ukuran kinerja yang harus dicapai, sehingga team akan termotivasi.
    • Pastikan insentif tersebut sesuatu yang “bisa
      dicapai” (achievable), bukan sesuatu yang berada di langit.
  • Tetapkan sasaran dari setiap sales team.
    • Sasaran penjualan (value dan volume).
    • Sasaran distribusi.
    • Sasaran kunjungan dan kunjungan efektif  (call dan effective call)
    • Dan sasaran lainnya.
  • Tetapkan aturan collection dan aturan retur
    penjualan dalam kaitannya dengan insentif, masukkan dalam skema insentif.
    • Berapa minimal collection untuk dua mingguan
      (biweekly) dan untuk satu cycle / satu periode / satu bulan (mana yg dipakai).
    • Apakah nilai collection akan menjadi password
      untuk insentif?, silahkan ditetapkan, berapa dan bagaimana mekanismenya, hal
      ini penting untuk cashflow dan menghindari 
      atau mengurangi resiko bad debt.
    • Retur juga harus ditetapkan, nilai berapa atau
      kondisi yang bagaimana yang bisa diterima perusahaan. Kemudian rasio retur juga
      harus diperhitungkan, jangan sampai sales hanya coba-coba, tanpa melihat
      potensi outlet (main boom, main tembak, dua tiga periode berikutnya retur, hal
      ini sering dilakukan salesman untuk mendapatkan insentif).
  • Ingat…, sistem atau skema insentif, harus
    menyatu dengan target (breakdown target) dan strategi penjualan, distribusi dan
    promosi yang diterapkan.
  • Bedakan antara insentif dari princiapal dan dari
    distributor, tetapi keduanya harus terintegrasi, tidak boleh bertabrakan.

Tahap # 8 : Buat Kesepakatan Kerja atau Perjanjian Kerja Waktu Tertentu dan Jaminan

Setelah team terbentuk, harus ada aturan kerja yang mengatur hak dan kewajiban dari semua pihak, termasuk sales team yang tertuang dalam Kesepakatan Kerja Bersama dan atau dalam Perjanjian Kerja Waktu Tertentu ataupun Tetap. Ini masuk juga dalam tahapan usaha distribusi yang benar.

  • Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,
    buatlah aturan yang jelas, cantumkan dalam KKB – kesepakatan kerja bersama.
  • Buat juga Perjanjian Kerja untuk Waktu Tertentu
    – PKWT, bermaterai.
  • Apakan ada jaminan dari setiap salesman, misal ijasah
    terakhir, BPKB, dan lain-lain (setelah sekian periode dan kondite atau attitude
    dari salesman menunjukkan sinyal positif, jaminan bisa dikembalikan, atau ada
    mekanismen tersendiri).

Tahap # 9 : Susun SOP

Bagaimana sebuah aktivitas harus dijalankan, bagaimana aturannya, haruslah jelas, sehingga semua karyawan, termasuk sales team bisa beraktivitas dengan lancar, perusahaan harus menyusun Standard Operating Procedure. Menyususn SOP merupakan tahapan wajib dalam usaha distribusi.

  • Untuk memudahkan aturan main dan operasional,
    mulailah menyusun SOP – Standard Operating Procedure.
  • Mulailah dari yang paling urgent, seperti :
    • SOP penjualan kredit, penjualan tunai, pemesanan
      barang,
    • SOP pengambilan dan pengembalian barang (retur
      kanvas), audit kanvas ,
    • SOP biaya pengajuan operasional dan  klaim BO,
    • SOP penagihan piutang langganan, penanganan
      piutang overdue,
    • SOP penyerahan hasil penjualan (tunai, transfer,
      giro / cek mundur, dan lain-lain),
    • SOP order, penyerahan barang  dan penagihan untuk modern trade atau special
      outlet (biasanya tiap outlet MT punya aturan tersendiri, jadi coba diakomodasi
      dalam SOP),
    • SOP pengajuan, pelaksanaan dan pertanggungjawaban
      biaya promosi,
    • Dan lain-lain SOP.

Tahap # 10 : Susun Standard Laporan

Untuk mengetahui progress dari sebuah aktivitas, maka diperlukan laporan dengan format khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan, itulah sebabnya perusahaan harus menyusun Reporting Standard untuk setiap posisi dan setiap level.

  • Standard Laporan digunakan untuk memudahkan
    monitoring dan evaluasi atau analisa.
  • Buatkan bentuk atau format Standar Laporan yang
    digunakan.
  • Buat sesederhana mungkin, tapi jangan
    menghilangkan point-point utama untuk analisa performance dan monitoring.
  • Jika melibatkan pihak eksternal (misal sub-distributor
    ), maka susun Business Performance Review untuk sub-distributor juga.
  • Contoh laporan yang harus ada :
    • Laporan penjualan harian / laporan aktivitas
      harian (pencapaian penjualan, call, EC, dll.).
    • Laporan penjualan per area, per produk (grup),
      per tipe outlet, per salesman.
    • Laporan penjualan dan persediaan.
    • Laporan persediaan barang rusak (bisa dijual dan
      tidak bisa dijual).
    • Laporan posisi piutang / status piutang (per
      area, per salesman, per pelanggan).
    • Laporan pengendalian biaya operasional (motor
      running cost).
    • Laporan trend penjualan (untuk melihat tingkat
      penerimaan (repeat order) dan progres penjualan).
    • Laporan aktivasi saluran distribusi (untuk
      melihat tingkat penerimaan untuk titik-titik yang di-treatment).

Tahap # 11 : Susun Indikator Kinerja (KPI – Key Performance Indicators)

Perusahaan juga harus melakukan penilaian atas kinerja karyawan, termasuk sales team, baik perorangan maupun kelompok (section, division, department, unit, dst.).

Dan cara terbaik adalah melakukan penilaian yang berbasis KPI, agar penilaian lebih obyektif dan sesuai dengan sasaran strategis yang sedang dibidik.

  • Mulailah menyusun KPI (key performance
    indicators).
  • Mulai dari posisi kunci yang teratas, misal
    Sales Manager, Area Sales (Promotion) Manager, Area Sales (Promotion)
    Supervisor, Warehouse & Logistic Manager / Supervisor, dan seterusnya.
  • Mulai dari yang paling pokok, seperti penjualan,
    distribusi, call, effective call, service level, dan lain-lain.
  • Sertakan hasil KPI dalam skema insentif (sebagai
    komponen insentif).
  • Selalu gunakan KPI dalam setiap meeting atau
    sales briefing.

Tahapan ini cukup merepotkan, dan seringkali ditinggalkan oleh mereka yang sedang memulai usaha distribusi, tetapi saya tidak menyarankan untuk ditinggalkan, lakukan tahapan ini dalam meski sederhana, agar usaha distribusi bisa berjalan lancar.

Tahap # 12 : Susun Standar Kompetensi

Agar semua karyawan, termasuk sales team mampu memberikan hasil yang optimal, maka semua karyawan harus memenuhi kompetensi yang dibutuhkan untuk setiap posisi tersebut.

Jadi perusahaan harus menetapkan standar kompetensi dari setiap posisi atau setiap level yang ada.

  • Mulailan menyusun standar kompetensi untuk
    setiap posisi (sederhana saja).
  • Compare antara standar dengan actual, hitung dan
    tetapkan prosentase Gap nya.
  • Lakukan pembinaan dan pelatihan, tidak perlu
    formal, cukup saat usai meeting, gunakan hasil evalusi standar kopentensi (gap).
  • Jika memungkinkan bisa dilakukan training untuk
    sales team dan supporting team.
  •  Bisa
    dimulai dari team inti, sales leader, sales supervisor, supporting team, dan
    seterusnya.

Menyusun standar kompetensi sangat penting, untuk mendapatkan kandidat yang sesuai, tentu ini tidak mudah, tapi diusahan ada meski sederhana, agar usaha distribusi bisa berjalan dengan baik.

Tahap # 13 : Pegelolaan Piutang Langganan (AR Management)

Perusahaan harus memiliki mekanisme bagaimana mengelola piutang langganan yang benar, sehingga cash flow perusahaan bisa terjaga dengan baik, dan perusahaan bisa meminimalisir bad debt atau kecurangan yang berhubungan dengan AR – Account Receivable.

Piutang pelanggan (AR), seringkali merupakan salah satu aset terbesar perusahaan, maka dari itu harus dikelola dengan benar. Tahapaan ini sangat penting dan tidak boleh terlewatkan dalam usaha distribusi.

  • Status piutang langganan / piutang penjualan.
    • Lakukan monitoring umur piutang (AR Aging).
    • Klasifikasikan berdasarkan tingkat
      kolektibilitas AR tersebut, lakukan treatment untuk setiap kondisi (kondisi
      beda, treatment beda).
    • Untuk AMDK akan banyak penjualan tunai, jadi
      gunakan “kebijakan kredit” sebagai sebuah strategi untuk meningkatkan
      penjualan.
  • Atur Audit AR di kantor dan di lapangan
    (periodik dan random).
  • Antisipasi piutang macet (bad debt), dengan
    berbagai monitoring.
    • Monitoring piutang.
    • Audit AR 
      (office audit dan field audit).
    • Market visit untuk cek potensial outlet.
    • Persyaratan untuk penjualan kredit (syarat
      outlet bisa dapat fasilitas kredit, perhatikan kompetitor).
    • Cek plafon kredit secara periodik.
  • Tanggung jawab sales team terhadap piutang.
    • Sejauh mana tanggung jawab salesman terhadap
      piutang (faktur kredit).
    • Kondisi yang seperti apa, faktur kredit (credit
      invoices) akan menjadi beban salesman, supervisor bahkan manager.

Tahap # 14 : Pengelolaan Persediaan (Inventory Management)

Persediaan juga merupakan salah satu aset yang cukup besar bagi perusahaan, apalagi jika perusahaan tersebut adalah distributor.

Kesalahan mengelola persediaan bisa berakibat fatal, kelebihan stok berakibat pada biaya yang membengkak, kekurangan stok berpotensi pada kehilangan kesempatan penjualan.

Mengelola persediaan dengan baik dan benar, merupakan tahapan penting dalam usaha distribusi yang benar.

  • Atur persediaan sedemikian rupa dengan
    memperhatikan ED, kelayakan produk dan kelompok produk.
  • Atur standar transportasi barang (produk) agar
    tidak ada barang rusak (BS).
  • Atur standar penyimpanan di outlet dan standar
    pemajangan untuk menghindari BS.
  • Lakukan perhitungan kebutuhan persediaan
    berdasar permintaan dan potensi pasar.
  • Buat standar produk retur, bagaimana prosedur
    dan kriteria produk yg boleh di retur (standard of Good Survey Report)

Tahap # 15 : Maksimalkan Fungsi Supporting Team

Agar tujuan dan target perusahaan bisa tercapai dengan maksimal, maka harus ada kerjasama positif antar semua bagian dalam perusahaan, dimana masing-masing bagian harus melakukan tugasnya dengan baik dan benar.

  • Supporting team atau bagian administrasi harus
    memahami fungsi dasar mereka, yaitu :
    • Sebagai pengendali dan pengawas  atas lalulintas data dan material (barang,
      dokumen penjualan (faktur, nota penjualan, nota pesanan, TT, dan lain-lain)  dan uang (tunai, giro, cek, tranfer, dan
      lain-lain).
    • Sebagai mitra kerja operational team, dengan
      menyajikan berbagai data dan informasi yang berhubungan dengan aktivitas di
      lapangan,…  jangan dibalik . . . !
    • Membuat laporan dasar yang dibutuhkan tepat
      waktu tanpa ada kesalahan.
  • Melakukan pengawasan baik secara data di kantor
    (internal audit) maupun data dilapangan (eksternal audit / audit pasar)
  • Melaporkan berbagai temuan di kantor maupun
    lapangan kepada sales supervisor / sales manager terkait aktivitas mencurigakan
    sales team.
  • Supporting team harus mampu memberikan pelayanan
    ke pelanggan, terkait dengan berbagai pertanyaan atau komplain dari konsumen
    dan pelanggan, jika tidak memungkinkan akan lebih baik mengangkat satu orang sebagai
    telemarketing sekaligus customer service.

Sebenarnya dengan semua tahapan diatas, sudah cukup untuk memulai usaha distribusi atau melakukan set up distribusi, tetapi jika ditambahkan dengan dua point berikut di bawah ini akan bertambah ciamik.

Tahap # 16 : Pimpinan yang Visioner dan Bersedia Turun ke Lapangan

Langkah dari perusahaan diatur oleh para pimpinannya, termasuk bagaimana perusahaan menyikapi kondisi dilapangan dan trend yang ada di masyarakat pada saat ini, itulah sebabnya agar perusahaan bisa survive, dibutuhkan pimpinan yang berpandangan jauh kedepan (visioner) dan tahu benar kondisi real di lapangan. Memiliki pimpinan yang visioner, juga masuk dalam tahapan usaha distribusi.

  • Ini cukup penting, agar perusahaan bergerak pada
    hari ini, dan juga siap menyonsong berbagai hal baru dimasa mendatang.
    • Contoh, pimpinan harus paham, minimal kulitnya
      tentang digital marketing / internet marketing, karena memang saat ini eranya
      internet / digital.
    • Pimpinan mulai menyusun penggunaan berbagai
      marketing tools modern, beserta berbagai perlengkapannya seperti aplikasi
      penunjang untuk penjualan.
  • Pimpinan (sales manager) bukan hanya harus
    menguasai strategi distribusi, penjualan plus pemasaran, tetapi pimpinan
    dituntut mampu memberikan solusi praktis dilapangan.
  • Sales Manager harus mampu membaca laporan
    keuangan (minimal dasar) dan berbagai metode peningkatan kinerja karyawan
    (sales team).
  • Jika memungkinkan, cari pimpinan yang memahami
    dunia distribusi, penjualan dan pemasaran dalam dunia internet (era digital)
    artinya juga mengerti digital marketing atau internet marketing (minimal sebatas
    mengerti).

Tahap # 17 : Gunakan Aplikasi Distribusi yang Terintegrasi

sistem-informasi-pemasaran-memulai-usaha-distribusi-produk-konsumer

Pada saat ini,  saat era informatika, era digital, hampir semua aktivitas akan selalu berhubungan dengan dunia digital dan internet.

Jika pada masa lalu kita menggunakan komputer sebagai salah satu alat bantu kerja, maka pada saat ini komputer sudah merupakan bagian dari seluruh aktivitas kita, karena komputer telah berubah menjadi berbagai bentuk, salah satunya adalah dalam bentuk tablet dan smartphone.

Artinya program atau aplikasi penjualan dan distribusi, pada saat ini bisa dilakukan tidak hanya dengan komputer real (laptop, desktop) tetapi dapat menggunakan smartphone ataupun tablet yang lebih mobile dibandingkan laptop.

Dengan perusahaan menerapkan aplikasi distribusi, maka perusahaan akan mendapatkan benefit yang sangat banyak sekali, mulai dari kecepatan proses, kecepatan pengambilan keputusan, akurasi data, dan masih banyak lagi benefit yang bisa didapat.

Sebuah aplikasi distribusi minimal akan memuat modul atau fungsi seperti :

  • Modul penjualan, memuat sub modul yang
    berhubungan dengan penjualan, seperti :
    • Transaksi penjualan
    • Retur penjualan
    • Tracking kunjungan salesman
    • Daftar kunjungan salesman
    • Dan lain-lain
  • Modul persediaan, memuat sub modul yang
    berhubungan dengan persediaan, seperti :
    • Penerimaan barang (dari principal, inter office,
      retur penjualan, lainnya).
    • Pengeluaran barang (penjualan, inter office, ke
      principal, lainnya).
    • Perubahan status produk.
    • Forecast (weekly order & monthly order).
    • Dan lain-lain
  • Modul piutang, berisi sub modul yang berhubungan
    dengan piutang, seperti :
    • Pelunasan piutang (pelanggan, klaim, dll.)
    • Monitoring status piutang.
    • Pencetakan daftar tagihan.
    • Monitoring status giro mundur.
    • Dan lain-lain
  • Modul pembelian, berisi sub modul dengan fungsi
    yang berhubungan dengan transaksi pembelian, seperti :
    • Order pembelian reguler (mingguan, bulanan,
      dll.)
    • Order pembelian susulan
    • Retur pembelian
    • Dan lain-lain
  • Modul keuangan, berisi transaksi yang
    berhubungan dengan kas dan bank.
  • Modul pemeliharaan data (master) seperti :
    • Modul pelanggan, berisi berbagai fungsi yang
      berhubungan dengan data pelanggan, seperti :
      • Pelanggan baru.
      • Plafon / Credit limit.
      • Status pelanggan (manual).
      • Pemeliharaan data pelanggan (penambahan,
        penghapusan, perubahan).
      • Dan lain-lain.
    • Modul produk, berisi berbagai fungsi yang
      berhubungan dengan produk, seperti :
      • Produk baru.
      • Status produk (manual).
      • Pemeliharaan data produk (penambahan,
        penghapusan, perubahan).
      • Dan lain-lain.
    • Modul suplier, berisi berbagai fungsi yang
      berhubungan dengan data supllier / principal, seperti :
      • Supplier / principal / pemasok baru.
      • Pemeliharaan data supllier / principal.
      • Dan lain-lain
    • Modul gudang atau lokasi, berisi berbagai fungsi
      yang berhubungan dengan data gudang atau lokasi barang, seperti kode dan jenis
      gudang (gudang utama, gudang cabang, sales point, stock point, gudang transit,
      kanvas, dll.).
    • Modul territory, berisi berbagai fungsi yang
      berhubungan dengan pengelolaan wilayah pemasaran, seperti area coverage, call
      plan, dan lain sebagainya.

Di atas adalah sedikit dari modul beserta fungsinya dari APLIKASI DISTRIBUSI yang terintegrasi (DIS – Distribution Information System) yang saat ini bayak dijual dipasaran, yang bisa didapat perusahaan baik dengan pembelian secara langsung, maupun dengan sistem sewa per periode.

Jika dahulu perusahaan distributor atau principal, harus mengeluarkan ratusan juta bahkan sampai miliaran untuk membeli PROGRAM APLIKASI DISTRIBUSI ini, tidak dengan saat ini, karena saat ini program aplikasi tersebut bisa didapat dengan cara sewa atau pembayaran per periode (bulanan atau tahunan) yang jauh lebih ringan.

Dan dengan aplikasi ini, maka para pengambil keputusan bisa melakukan monitopring dari mana saja, karena data bisa diakses dari smartphone atau tablet melalui koneksi internet.

Jadi saat Anda hendak memulai usaha distribusi produk, ada baiknya mulai menginvestasikan di system aplikasi distribusi ini, karena akan ada banyak benefit yang bisa didapatkan.

langkah-memulai-usaha-aplikasi-distribusi

Penutup Tahapan atau Langkah Memulai Usaha Distribusi

Saya rasa itu cukup untuk menyiapkan perusahaan melakukan distribusi dan pemasaran di pasar, lakukan set-up untuk semua item di atas, mulai dari tahap pertama, terus hingga tahap akhir.

Meski ini hanya tahap dasar dalam usaha distribusi, jika dikerjakan dengan baik, hasilnya akan cukup membantu perusahaan memulai usaha distribusi dengan baik.

Jika perusahaan Anda bergerak dibidang distribusi atau perusahaan distributor, maka Anda harus rajin-rajin mencari principal dan membangun hubungan baik dengan principal tersebut, salah satunya adalah dengan memberikan apa yang dibutuhkan principal tersebut, yaitu pemerataan produk di saluran distribusi yang menjadi target produk mereka.

Sebaliknya jika perusahaan Anda adalah principal yang sedang mendistribusikan produk melalui distributor setempat, maka Anda harus rajin melakukan aktivasi sehingga outlet tersebut layak untuk di cover oleh distributor (layak, artinya memberikan profit yang pantas bagi distributor), dimana aktivasi channel tidak saja bagi outlet baru, namun juga bagi outlet lama yang dibawah standar atau bisa dinaikkan potensinya.

Demikian sekilas tentang langkah memulai usaha distribusi atau tahapan memulai distribusi produk konsumer, baik bagi principal maupun distributor.

Jika Anda atau Perusahaan Anda membutuhkan bantuan konsultasi (consulting) atau pendampingan (advisory) seputar persiapan usaha distribusi dan pemasaran (fokus di sales promotion), kami siap membantu dengan biaya yang sangat ringan, yang bisa disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Kami siap membantu dengan mekanisme yang fleksible seperti :

  • Direct Advisory 
    / Consulting , kami melakukan pendampingan / konsultasi secara langsung,
    secara periodik bertemu dengan team dan bersama team melakukan market visit.
  • Indirect Advisory / Consulting, kami melakukan
    pendampingan / konsultasi via media komunikasi seperti telpon, WA, email,
    dimana analisa kami lakukan dengan berbagai reporting yang dikirimkan ke kami.

Kami juga menyediakan beberapa Paket untuk Alat Bantu Operasional Principal dan Distributor (Sales-Distribution & Marketing Tools), diantaranya :

  • Standard Reporting & Forms (templates).
  • Key Performance Indicators (KPI) (templates).
  • Standard Operating Procedure (SOP) (templates).
  • Business Presentation (templates).
  • Dan lain-lain

Ada beberapa artikel di blog distribusipemasaran.com yang terkait dengan tahapan-tahapan usaha distribusi diatas, yaitu :

Sales Territory Management bag. 1 : Definisi, Fungsi dan Dasar Penyusunan

Sales Territory Management bag. 2 : Market Potential, Target dan Standard Coverage

Sales Territory Management bag. 3 : Mapping dan Call Plan

Step Call untuk Salesman Pemula – bidang Distribusi (series Panduan Belajar)

Kenali Potensi Area dengan Mapping

Saluran Distribusi #1 : Menangani Tim Penjualan Agen / Sub-Dist

Saluran Distribusi #2 : Menangani Persediaan, Pengiriman dan Administrasi Agen

Saluran Distribusi #3 : Menangani Penjualan di Grosir

Saluran Distribusi #4 : Menangani Penjualan di Pengecer

Kenali Lebih Dekat Saluran Distribusi Anda

Remuneration System yang Mendongkrak Penjualan

8 Tahap Proses Pengembangan Produk Baru

Pentingnya Sistem Informasi Pemasaran Dalam Membuat Keputusan

Akhirnya kami ucapkan terima kasih atas kunjungannya ke blog distribusi pemasaran dotcom ini, jika Anda memiliki pendapat atau pengalaman yang berbeda, silahkan sampaikan di kolom komentar untuk melengkapi artikel ini.

Salam Sukses Sehat dan Bahagia

Picture : Octapix